Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Kopi Gading Cempaka, Sruput Berani Beda

    Kopi Premium khas Bengkulu.
    NgulikYuk - Suka minum kopi ? Tau tentang kopi ? Kopi yang anda sukai jenis apa? mungkin itu salah tiga pertanyaan yang sering di utarakan dalam berbagai obrolan santai. kali ini kita akan mengulik salah satu kopi khas Bengkulu yang sudah premium. Penasaran dengan kopi yang bernama salah satu putri kerajaan yang amat sangat terkenal ini simak langsung . . .

    Sejarah Kopi Gading Cempaka

    Nama Kopi Gading Cempaka bukan nama yang asal catat. Kalau dalam istilah kopi, bukan " kopi asalan ". Atau juga bukan nama yang hanya ingin " dompleng " popularitas dari Putri Gading Cempaka.

    Kopi Gading Cempaka memiliki silsilah tutur panjang walaupun namanya belum pernah tercatat dalam " buku sejarah "perkopian Bengkulu bahkan Indonesia. Maklum, sejarah peradaban kita lebih dikenal dengan budaya tutur mulut ke mulut daripada budaya literasi. Kita kalah dengan Jepang kalau soal " catat-mencatat " Untuk itu, kami berkewajiban saat ini menjelaskan secara singkat dan padat apa yang masih tersimpan dalam ingatan para orang tua kita yang masih hidup.

    Dahulu kala, hidup seorang petani kopi sekaligus " toke " atau pengepul kopi di sebuah dusun tua yang belakangan diberi nama Desa Aur Gading. Desa ini masuk wilayah administrasi Kabupaten Bengkulu Utara Provinsi Bengkulu.

    Di Bengkulu Utara, Putri Gading Cempaka dipercaya sebagai leluhur dari kerajaan- kerajaan yang sempat muncul pasca Kerajaan Sungai Serut " hancur ". Sehingga Putri Gading Cempaka dipercaya sebagai sosok yang memiliki aura kedamaian, penuh kasih, dan bijaksana.

    Kecantikan dan kecerdasan Putri Gading Cempaka tertanam sebagai sebuah manivestasi kekayaan alam bumi Bengkulu. Bumi yang subur dan dapat tumbuh segala macam tanaman yang bernilai ekonomi tinggi. Salah satunya itu adalah kopi.

    Desa Aur Gading merupakan desa tertua di Bengkulu Utara yang mayoritas penduduknya berasal dari suku Rejang. Suku terbesar di provinsi Bengkulu. Sebagian besar penduduknya adalah petani kopi.

    Walaupun tidak terbilang dataran tinggi " ideal " penghasil kopi terbaik, namun tanah Aur Gading sangat cocok dengan tanaman jenis kopi Robusta yang belakangan ditemukan celahnya sebagai kopi Robusta tradisional dengan rasa yang cukup baik.

    Desa Aur Gading tidak jauh jaraknya dengan kota tua Curup, Rejang Lebong. Hanya butuh waktu 3 jam berjalan kaki menelusuri hutan untuk sampai Curup. Curup terkenal dengan penghasil kopi berkualitas karena merupakan dataran tinggi.

    Petani kopi panen kopi segar.
     Kurang lebih pada tahun 1920 sebelum kemerdekaan, penduduk Aur Gading mulai mengembangkan pertanian kopi yang dalam catatan sejarah hampir bersamaan dengan kota Curup. Catatan ini hanya bentuk perkiraan. Kenapa bersamaan? Karena Aur Gading-Curup memiliki perkebunan yang sangat dekat satu sama lain. Petani sekaligus " toke " kopi ini merupakan sosok yang percaya bahwa Putri Gading Cempaka adalah titisan " malaikat " dan sumber kesuburan di tanah Aur Gading, kemudian dia mengembangkan usahanya dengan membuat kopi bubuk yang dijual.
    Pada para pedagang yang melintas di perkampungan menuju kota Curup. Aur Gading dahulu kala merupakan jalur perdagangan alternatif menuju kota Curup. Bukan hanya dijual untuk pedagang yang melintas perkampungan saja, pada perkembangannya juga dijual di pasar-pasar rakyat. Bahkan penjajah Belanda yang hidup di sana menyukai rajikan kopi bubuk karyanya.

    Dalam penuturannya, kopi bubuk itu dia beri nama Kopi Gading Cempaka. Kopi yang membuat para penjajah ketagihan. Nikmatnya tergambar melalui kecantikan sosok putri bungsu titisan Majapahit anak dari Ratu Agung.

    Nama desa Aur Gading dan Kopi Gading Cempaka sekilas sama karena mengandung satu kata sama. Namun berbedah jauh dari muasal sejarah nama desa tersebut. Aur berarti Bambu, Gading merupakan Kuning. Jadi Bambu Kuning yang dulu tumbuh subur di perkampungan. Walaupun saat ini sudah tidak ada lagi jejaknya. " Kopi Gading Cempaka " penjajah menyebutnya adalah kopi candu. Bisa mematahkan alusinasi jadi kegirangan dan sumber kekuatan serta kebahagiaan.

    Bukan hanya penjajah, pedagang juga merasakan kecanduan pada kopi ini. Kopi hasil perkebunan rakyat Aur Gading. Dekatnya Aur Gading dan Curup melahirkan karakter kopi yang tidak jauh berbeda. Para " toke " banyak yang datang dari Curup untuk membeli hasil pertanian tiap musim atau sebaliknya patani sendiri yang menjual ke daerah Curup.
    Itu sekilas cerita tutur dari tetuah desa Aur Gading tentang seorang petani sekaligus" toke " kopi di masa lalu.

    Produk 

     
    Robusta dan Arabika.

    Kopi Gading Cempaka menyediakan dua produk utama baik berupa roasted beans yakni produk biji kopi yang sudah di panggang. Satunya lagi yaitu bubuk kopi yang mudah di sajikan dengan tinggal menyeduhnya atau yang di sebut dengan Ground Coffe. Kopi ARABIKA dan Kopi ROBUSTA ada pada pilihan Kopi Gading Cempaka ini harga yang ditawarkan cukup murah yakni 20.000/100gram dan sudah mendapatkan kopi yang premium. Sedangkan untuk ukuran 300gram berupa Kopi Robusta Premium hanya 30.000 jadi pantaslah pilihan yang di berikan sesuai dengan rasa yang di tawarkan.

    Rasa yang berani beda yaitu dengan kekhasan yang di tawarkan oleh dataran tinggi Bengkulu. Rasakan nikmatnya kopi dengan rasa yang kental dan cukup unik ini, SERUPUT KOPI GADING CEMPAKA, SERUPUT KOPI BERANI BEDA! ! !

    Contact Gading Cempaka Coffee
    FB : Kopi Gading Cempaka
    IG : @KopiGadingCempaka
    Twitter : @kopigadingID
    Fanspage Centre Kopi Gading Cempaka
    Web www.kopigadingcempaka.com
    No Hp/WA 0811 7321 511 / 0819 9585 0700

    2 komentar:

    1. wahh,, belum pernah cobain. Jadi penasaran sama rasanya..

      BalasHapus
    2. Kopi yg aroma nya dan rasanya oke

      BalasHapus

    Terimakasih sudah berkomentar secara bijak dan sesuai topik . . .

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728